Jumat, 14 Maret 2014

GUNUNG KELUD MELETUS


   Gunung Kelud meletus pada Kamis malam Jumat, tanggal  13 Pebruari   2014





  
      
di mulai jam 21.00 Waktu Blitar, Jawa timur, Indonesia. Gambar ini diambil dari Blogger.

Kamis, 14 Maret 2013

SANJAK-SANJAK DARI HATIKU

PADA NGAJI-A  

 Sedaya dulur mangga yen ngaji 
    Ngaji Al Quran lan Hadits Nabi
        Perkara repot aja turuti 
           Digawe sangu urip lan mati   

Yen isih cilik diwulang ngaji 
   mBesuk yen gede supaya ngerti  
       Lamuna sira durung pada ngerti  
          Pada ngaji-a marang Kyai 
   
 Senajan tuwa pada ngaji-a   
    Aja mung dongeng lan crita-crita   
       Putra putrine diwulang ngaji  
         Sholih-sholihah tur pada ngerti    

Penulis sanjak : mBah Sakrip.
Padepokan kreatif : 14-03-2013




NGARANG AJARAN

Krenteging ati pancen kepingin
kaya kanca-kanca dek semana 
karangane mesti ditrima
uga ditulis ing majalah basa jawa
uga bisa diwaca wong sak nuswantara

Krenteging ati pancen kepingin
kaya kanca-kanca dek semana
nanging uga wis dak coba 
bola-bali tanpa guna
lembaran-lembaran sing wis dak tulis
entek-entekane mung muspra
sing wis dak kirim via e-mail
menyang majalah Panjebar Semangat
ora bisa dimuat
nanging........aku tetep duwe semangat

Krenteging ati pancen kepingin 
kaya kanca-kanca dek semana
urag-ureg ana kertas
nganggo pulpen lan kertas kuning emas
senajan ta wis ana sing dak gagas
nanging.... seprana-seprene
tansah kandas
uga.....wis sak mesthine
aku ora mikir perkara honor
senajanta entuk weselan honor
paling-paling mung ke kanggo tuku kathok kolor
ya.....sepurane sing akeh dulur
pancen isih ngarang ajaran


Padepokan kreatif :  Maret 2013
Penulis/pengarang: mBah Sakrip





 

















Rabu, 18 Juli 2012

METODE PENENTUAN AWAL ROMADLON DAN AWAL SYAWAL

          Hampir setiap tahun ummat Islam di dunia khususnya di Indonesia dalam menentukan awal Romadlon dan awal syawal selalu ada perbedaan, yang berakibat membingungkan baik dikalangan kaum awam maupun dikalangan akademik. Di Indonesia biarpun ada kelompok - kelompok  yang menentukan tidak menggunakan Ilmu Hisab dan Ru'yat itu hanya satu dua saja, artinya sedikit sekali dan sepertinya apa yang dilakukannya tidak berpedoman pada hadits Nabi. Sedangkan di Indonesia yang menjadi Panutan adal dua kelompok besar  yaitu Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. Dua kelompok inilah yang  pendapatnya akan menjadi pertimbangan masyarakat. Oleh karena pendapatnya berbeda, maka pemerintah perlu mengadakan sidang yang namanya Sidang Isbat, yang hasilnya akan dipakai rujukan oleh Hakim Agung untuk disiarkan kepada ummat Islam.
          Kita harus memaklumi hal tersebut, memang bulan Romadlon adalah Bulan Suci yang penuh Rahmat, bulan yang Agung dan bulan yang utama. Jadi untuk menentukannya harus serba hati-hati. Sehingga sangat penting untuk mengetahui kapan Romadlon di mulai dan kapan Romadlon di akhiri. Yakni dengan hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim : "Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbukalah kamu karena melihat hilal, bila tertutup oleh awan maka sempurnakanlah bilangan Sya'ban menjadi 30 hari". Hadits ini masyhur dikalangan masyarakat. Hanya saja untuk menafsiri dan memahaminya  hadits tersebut ada perbedaan, khusunya dalam kata-kata rukyah, ada yang melihat dengan mata kepala dan ada yang cukup dengan memperhitungkan.

          Ada 16 (enambelas) metode untuk menyimpulkan kapan awal romadlon dan kapan satu syawal, yaitu : Al Khulashoh  Al Wafiyah, Ittifaq Dzatil Bainy, Al-Manak Nautika, Al Falakiyah, Tashilul Mitsal, Nurul anwar Asy - Syahru, Tsamarotul Fikar, Matlausaid, Manahijul Hamidiyah, Haqqiqi, Darrul Masquub, Sallamun Nayyiroin, Fath Al Rouf af Mannan, R. Qomarroin, Badi'ah Al Mitsal, Taqwim Awwal Qomariyah, New Comb, dan Badan Meteorologi Klimatologi  dan Geofisika (BMKG).  
          Yang perlu diingat oleh Ummat Islam bahwa penanggalan Hijriyah dalam satu bulan itu hanya dua yaitu 29 hari atau 30 hari.




                                                     gambar dari harian DUTA         
                             
                                             ====:notulis : mBah Sakrip:===
   

Jumat, 01 Juni 2012

TUNTUNAN MANASIK HAJI

TATA CARA IBADAH HAJI DAN UMROH

1. Pengertian Haji
    Ibadah Haji ialah berkunjung ke Baitulloh (ka'bah) untuk melakukan beberapa amalan ibadah pada waktu-waktu tdrtentu dan ditempat-tempat tertentu pula, karena semata-mata memenuhi panggilan Alloh dan mengharap keridhoan-NYA. Antara lain: Wukuf di arofah, Thowaf di Ka'bah, Sa'i antara Shofa dan Marwah dan lain-lain.

2. Hukum ibadah Haji.
     Ibadah haji diwajibkan oleh Allah SWT kepada ummat Islam yang telah mencukupi syarat-syaratnya. Menunaikan ibadah haji diwajibkan hanya sekali seumur hidup, sedang yang keduakali dan seterusnya hukumnya sunnat.

3. Syarat Rukun dan wajib haji. 

     a.   Syarat haji adalah :
1.  Islam
2. Baligh. 3. Aqil   4. Merdeka    . 5.  Istitho'ah (mampu) baik dari segi fisik, mental, cukup dana. Perbekalan baik untuk dirinya maupun untuk keluarga yang ditinggalkan dirumah.
     Bagi yang tidak memenuhi syarat-syarat tersebut diatas, baginya tidak diwajibkan untuk menunaikan ibadah haji.

Firman Allah SWT dalam Al Qur.anil Kariim : Surah Al Baqarah-196 :
"Wa'atimmuul hajja wal'ummrah lillaahi"

Artinya :
Sempurnakanlah ibadah haji dan umroh-mu semata-mata karena Allah SWT.

b. Rukun Haji adalah :

1. Berihram   2. Wukuf di Arafah   3. Thawaf Ifadah   4. Sa'i   5. Mencukur rambut, paling sedikit 3 helai rambut. 6. Tertib

Rukun haji ini harus dikerjakan tidak boleh ditinggalkan, apabila tidak dipenuhi maka ibadah haji tidak syah.

c. Wajib Haji adalah :

1.  Niat Ihram dari miqat   2. Mabit (bernalam) di Muzdalifah   3. Mabit di Mina   4. Melontar Jumroh Ula, Wustha dan Aqabah   5. Tidak melakukan perbuatan yang dilarang pada waktu melakukan ibadah haji.  6. Thawaf Wada'.
    Wajib haji ini adalah ketentuan yang apabila dilanggar maka ibadah haji tetap syah, tetapi wajib membayar Dam (denda).

4.  Waktu mengerjakan Haji.
     Menurut jumhur ulama' waktu mengerjakan haji dimulai dari tanggal 01 Syawal sampai terbit fajar tanggal 10 Dzulhijjah.

5.  Pelaksanaan Ibadah Haji.
     Cara melaksanakan ibadah haji dapat dilakukan dengan salah satu dari tiga cara :
     1. Ifrad' yaitu mengerjakan haji lebih dulu kemudian baru mengerjakan umrah. Cara ini tidak diwajibkan membayar Dam.  2. Tamattu' yaitu mengerjalan Umrah lebih dahulu kemudian baru mengerjakan haji. Cara ini diwajibkan membayar dam dengan menyembelih seekor kambing.  3. Qiran' yaitu mengerjakan haji dan umrah secara bersamaan. Cara ini juga diwajibkan membayar Dam dengan menyembelih seekor kambing.
     Bagi yang mengerjakan haji Ifrad atau Qiran disunnatkan melakukan Thawaf Qudum, yaitu thawaf penghormatan kepada Baitulloh atau thawaf selamat datang, jai bukan thawaf haji dan bukan thawaf umroh.
Thowaf Qudum ini boleh dilanjutkan dengan Sa'i dan juga boleh tidak dilanjutkan dengan Sa'i.  Apabila dilanjutkan dengan Sa'i maka Sa'i nya sudah termasuk Sa'i haji. Oleh sebab itu waktu thowaf Ifadah tidak perlu Sa'i lagi.
     Haji Ifrad biasanya dilakukan oleh...
























PIDATO LAHIRNYA PANCASILA

     Tentang lahirnya Pancasila setiap tahun pasti diperingati oleh bangsa Indonesia. Dengan beragam cara sesuai dengan ide masing-masing. ada yang cukup dengan upacara bendera kemudian dilanjutkan dengan pidato pemimpin upacara, ada yang dengan karnaval berpakaian jaman dulu (jadul). Jikalau di Kota Blitar memperingati hari lahirnya Pancasila dengan Grebeg yaitu arak-arakan hasil tani di jalan dari alon-alon kota Blitar menuju makam Proklamator Bung Karno. Tentu saja juga dengan diiringi dengan berbagai kesenian milik warga kota, antara lain Reyog Ponorogo, Rebana Banjaran dan masih banyak lagi. Pokoknya dijalan - kota Blitar sangat ramai dan meriah.
     Sebagai bahan pengetahuan kita bangsa Indonesia, dibawah ini saya tulis cuplikan pidato Bung Karno mengenai lahirnya Pancasila, aku ambil dari DEPPEN RI.

LAHIRNJA PANTJASILA

Pidato Pertama Tentang Pancasila yang diucapkan pada tanggal 1 Juni 1945 oleh Bung Karno

    Paduka Tuan Ketua Yang Mulia,
     Sesudah tiga hari berturut-turut anggota-anggota Dokuritsu Zyunbai Tyoosakai mengeluarkan pendapat-pendapatnya, maka sekarang saya mendapat kehormatan dari Paduka Tuan Ketua Yang Mulia untuk mengemukakakan pula pendapat saya. Saya akan menepati permintaan Paduk Tuan Ketua Yang mulia. Apakah perminttan Paduka Tuang Yang Mulia ?. Paduka Tuan Ketua Yang Mulia minta kerpada sidang Dokuritzu Zyunbai Tyoosakai untuk mengemukakakan dasar Indonesia Merdeka. Dasar inilah nanti akan saya kemukakan didalam pidato saya ini.
     Maaf, beribu maaf!. Banyak anggota telah berpidato, dan dalam pidato mereka itu diutarakan hal-hal yang sebenarnya buka permintaan Paduka Tuan Ketua yang Mulia, yaitu bukan dasarnya Indonesia Merdeka. Menurut anggapan saya, yang diminta oleh Paduka Tuan Ketua Yang Mulia ialah, dalam bahasa Belanda "Philocofiche grondslag" daripada Indonesia Merdeka. Philosofiche grondslag itulah pundamen, filsafat, pikiran yang sedalam-dalamnya untuk diatasnya didirikan jiwa, hasrat yang sedalam-dalamnya untuk diatasnya didirikan gedung Indonesia Merdeka yang kekal dan abadi. Hal ini nanti akan saya kemukakan; Paduka Tuan Yang Mulia, tetapi lebih dahulu izinkan saya memberikan, memberitahukan kepada tuan-tuan sekalian, apakah yang saya artikan dengan perkataan "merdeka".
     Merdeka buat saya adalah "political independence", politieke onafhankelijkheid. Apakah yang dinamakan politieke onafhankelijkheid"
     Tuan-tuan sekalian!@. Dengan terus terang saja saya berkata:

Senin, 31 Januari 2011

Apa itu Ahlussunnah Wal Jamaah

1.  Tiga Sendi Utama Ajaran Islam

               Islam adalah agama Allah SWT yang diturunkan untuk seluruh manusia. Didalamnya terdapat pedoman dan aturan demi keselamatan didunia dan akhirat.
              Ada tiga hal yang menjadi sendi utama dalam agama Islam, yakni Iman, Islam dan Ihsan.
Dalam sebuah Hadits diceritakan : "Dari Umar bin al-Khaththab r.a. berkata: "Pada suatu hari kami berkumpul bersama Rasulullah saw, tiba-tiba datang seorang laki-laki yang bajunya sangat putih, rambutnya sangat hitam. Tidak ada tanda-tanda kalau dia melakukan perjalanan jauh, dan tak seorangpun dari kami mengenalnya. Laki-laki itu kemudian duduk dihadapan Nabi SAW sambil menempelkan kedua lutunya pada lutut Nabi SAW. Sedangkan kedua tangannya diletakkan diatas paha Nabi SAW. Laki-laki itu bertanya, "Wahai Muhammad beritahukanlah aku tentang Islam". Rasulullah SAW menjawab, "Islam adalah kamu bersaksi tiada tuhan selain Allah SWT, dan Muhammad adalah utusan Allah SWT, mengerjakan shalat, menunaikan zakat, puasa pada bulan ramadlan dan kamu haji ke Baitullah jika kamu mampu melaksanakannya". Laki-laki itu menjawab, "Kamu benar". Umar berkata, "Kami heran kepada laki-laki tersebut  ia bertanya tapi ia sendiri yang membenarkannya". Laki-laki itu bertanya lagi, " Beritahukanlah aku tentang Iman". Nabi SAW menjawab,"Iman adalah engkau beriman kepada Allah, malaikat-NYA, Kitab-NYA, para rasul-NYA, hari kiamat dan qadar ( ketentuan ) Allah yang baiki dan yang buruk". Laki-laki itu menjawab,"Kamu benar". Laki-laki itu bertanya lagi, " Beritahukanlah aku tentang ihsan". Nabi SAW menjawab, " Ihsan adalah kamu menyembah kepada Allah SWT seolah-olah kamu melihat-NYA, jika kamu tidak dapat melihat-NYA, maka sesungguhnya IA melihatmu". Kemudian orang itu pergi. Setelah itu aku (Umar) diam beberapa saat. Kemudian Rasulullah SAW bertanya kepadaku, "Wahai Umar siapakah orang yang datang tadi?". Aku menjawab: "Allah SWT dan RasulNYA lebih mengetahui". Lalu Nabi SAW bersabda, " Sesungguhnya laki-laki itu adalah Malaikat Jibril  AS. Ia datang kepadamu untuk mengajarkan agamamu".( HR : Muslim, 9)

               Dari  sisi keilmuan semula ketiganya merupakan satu kesatuan yang tidak terbagi-bagi. Namun dalam perkembangan selanjutnya para ulama mengadakan pemisahan, sehingga menjadi bagian ilmu tersendiri. Bagian-bagian itu mereka elaborasi sehingga menjadi bagian ilmu yang berbeda.  Perhatian terhadap Iman memunculkan Ilmu Tauhid atau Ilmu Kalam. Perhatian khusus pada aspek Islam (dalam pengertian sempit) menghadirkan Ilmu Fiqh atau Ilmu Hukum Islam dan penelitian terhadap dimensi  Ihsan melahirkan Ilmu Tasawuf atau Ilmu Ahlak.
                Namun demikian, meskipun telah menjadi Ilmu tersendiri, dalam tataran pengamalan kehidupan beragama, tiga perkara itu harus diterapkan secara bersamaan tanpa melakukan pembedaan.  Tidak terlalu mementingkan aspek Iman dan meninggalkan Ihsan dan Islam, atau sebaliknya. Misalnya orang yang sedang shalat, dia harus meng-Esa-kan Allah disertai keyakinan bahwa Dia yang wajib disembah (iman), harus memenuhi syarat dan rukun shalat (Islam) dan shalat harus dilakukan dengan khusyu' dan penuh penghayatan (ihsan). Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surat Al Baqarah ayat 208, yang artinya :  "Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu kedalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syetan. Sesungguhnya Syetan itu musuh yang nyata bagimu".


2. Pengertian Aswaja

               Dalam istilah masyarakat Indonesia, Aswaja adalah singkatan dari Ahlussunnah Wal Jama'ah. Ada Tiga kata yang membentuk istilah tersebut,
1.  Ahl, berarti keluarga, golongan atau pengikut.
2.  Al-Sunnah, yaitu segala sesuatu yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW, maksudnya semua yang datang dari Nabi SAW, berupa perbuatan, ucapan dan pengakuan Nabi SAW.
3.  Al-Jama'ah, yakni apa yang telah disepakati oleh para shahabat Rasulullah SAW, pada masa khulafaur Rasyidin (Khalifah Abu Bakar r.a, Umar bin al-Khaththab r.a, Utsman bin Affan r.a dan Ali bin Abi Thalib k.w).
Kata al-Jama'ah ini diambil dari sabda Rasulullah SAW :
Artinya :"Barang siapa yang ingin mendapatkan kehidupan yang damai disurga, maka hendaklah mengikuti al-jamaah (kelompok yang menjaga kebersamaan)". ( HR. al-Tirmidzi (2091), dan al-Hakim (1/77-78) yang nilainya shahih dan disetujui oleh al-I-Hafizh al-Dzahabi).


Syaikh Abdul Qadir al-Jilani (471-561 H/1077 - 1166 M) menjelaskan : bahwa " Al-Sunnah adalah apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW (meliputi, ucapan, prilaku serta ketetapan beliau). Sedangkan Al-Jamaah adalah segala sesuatu yang telah menjadi kesepakatan para shahabat Nabi SAW pada masa Khulafaur Rasyidin yang empat, yang telah diberi hidayah (mudah-mudahan Allah memberi rahmat kepada mereka semua)". (Al-Ghunyah li Thalibi Thariq al-Haqq, Juzz I, hal.80).

Lebih jelas lagi, Hadlratusysyaikh KH Muhammad Hasyim Asy'ari (1287- 1336 H/1871-1947) menyebutkan dalam kitabnya Ziyadat Ta'liqat ( hal.23-24) sebagai berikut :
Terjemahannya : "Adapun Ahlusunnah  Wal Jama'ah adalah kelompok ahli tafsir, ahli hadits dan ahli fiqih. Merekalah yang mengikuti .......



BAGIAN   I
Pemahaman Aswaja
1.      Tiga Sendi Utama Ajaran Islam

    Islam adalah Agama Allah SWT yang diturunkan untuk seluruh manusia. Didalamnya terdapat pedoman dan aturan demi kebahagiaan dan keselamatan di dunia dan akhirat.
    Ada tiga hal yang menjadi sendi utama dalam agama Islam. Yakni Iman, Islam dan Ihsan. Dalam sebuah Hadits di ceritakan  Sbb. :












Artinya :
          Dari Umar bin Khaththab r.a. berkata : Pada suatu hari kami berkumpul bersama Rosulillah SAW, tiba-tiba datang seorang laki-laki yang bajunya sangat putih, rambutnya sangat hitam. Tidak kelihatan tanda-tanda kalau dia melakukan perjalanan jauh, dan tak seorangpun dari kami yang mengenalnya.  Laki-laki itu kemudian duduk di hadapan Nabi SAW sambil menempelkan kedua lututnya pada lutut Nabi SAW. Sedangkan kedua tangannya diletakkan diatas paha Nabi SAW. Laki-laki itu bertanya : “ Wahai Muhammad beritahukanlah aku tentang Islam”. Rosululloh SAW menjawab: “Islam adalah kamu bersaksi tiada Tuhan selain Alloh SWT dan Muhammad adalah utusan Alloh SWT., mengerjakan sholat, menunaikan zakat, puasa pada bulan suci romadlon dan kamu haji ke Baitulloh jika kamu telah mampu melaksanakannya”.  Laki-laki itu lalu menjawab : “ Kamu benar”. Umar berkata : “Kami heran kepada laki-laki tersebut, ia bertanya tapi ia sendiri yang membenarkannya”.  Laki-laki itu bertanya lagi, “Beritahukanlah aku tentang Iman.”  Nabi SAW menjawab : “ Iman adalah engkau beriman kepada Alloh SWT, malaikatNYA, kitab-kitabNYA, para RosulNYA, hari qiamat dan qodar (ketentuan) Alloh yang baik dan
1
yang buruk”. Laki-laki itu menjawab: “Kamu benar”. Laki-laki itu bertanya lagi :
Beritahukanlah aku tentang Ihsan”. Nabi SAW menjawab, “Ihsan adalah kamu menyembah Alloh SWT seolah-olah kamu melihatNYA, jika kamu tidak dapat melihatNYA, maka sesungguhnya IA melihatmu”.  Kemudian orang itu pergi . Setelah itu aku (Umar) diam beberapa saat, kemudian Rosululloh SAW bertanya kepadaku, “Wahai Umar siapakah yang datang tadi ?”. Aku menjawab: “ Allaoh SWT dan RosulNYA lebih mengetahui”.  Lalu Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya laki-laki itu adalah  Malaikat Jibril AS. Ia datang kepadamu untuk mengajarkan agamamu”. (HR.Muslim:9).   

          Dari sisi keilmuan semula ketiganya merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan / tidak terbagi-bagi. Namun dalam perkembangan selanjutnya para Ulama mengadakan pemisahan, sehingga menjadi bagian Ilmu tersendiri. Bagian-bagian itu mereka elaborasi sehingga menjadi bagian Ilmu yang berbeda. Perhatian terhadap Iman menculkan Ilmu Tauhid atau Ilmu Kalam.  Perhatian Khusus pada aspek Islam (dalam pengertian yang sempit) menghadirkan Ilmu Fiqih atau Ilmu Hukum Islam dan penelitian terhadap dimensi Ihsan melahirkan Ilmu Tashawuf atau Ilmu Ahlaq. (Pemikiran KH.mad Siddiq, hal. 1-2)

          Namun demikian, meskipun telah menjadi Ilmu tersendiri, dalam tataran pengamalan kehidupan beragama, tiga perkara itu harus diterapkan secara bersamaan tanpa melakukan pembedaan. Tidak perlu mementingkan aspek Iman dan meninggalkan dimensi Ihsan dan Islam, atau sebaliknya. Misalnya orang yang sedang sholat, dia harus mengesakan Alloh disertai keyakinan bahwa hanya Dia yang wajib disembah (iman), harus memenuhi syarat dan rukun sholat (Islam), dan sholat harus dilakukan dengan khusu’ dan penuh penghayatan (ihsan). Alloh SWT berfirman:


Artinya :
          Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu kedalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah seyetan. Sesungguhnya syetan itu musuh yang nyata bagimu”. (QS. Al-Baqarah: 208).

2.     Pengertian Aswaja
          Dalam Istilah masyarakat Indonesia, Aswaja adalah singkatan dari  Ahlussunnah Wal Jama’ah. Ada tiga kata yang membentuk istilah tersebut :
1.      Ahl, berarti keluarga, golongan atau pengikutnya
2
2.      Al-Sunnah, yaitu segala sesuatu yang telah diajarkan oleh Rosululloh SAW. Maksudnya ialah semua yang datang dari Nabi Muhammad SAW berupa perbuatan, ucapan dan pengakuan Nabi SAW. ( Fath al-Barri,juz XII, hal 245).
3.      Al-Jama’ah, yakni apa yang telah disepakati oleh para sahabat Rosululloh SAW pada masa Khulafaur Rosyidin (Kholifah Abu Bakar r.a, Umar bin Khoththob r.a., Utsman bin Affan r.a., dan Ali bin Abi Tholib k.wj.)
Kata Al-Jama’ah ini diambil dari sabda Rosululloh SAW



Barang siapa yang ingin mendapatkan kehidupan yang damai disurga, maka hendaklah ia mengikuti al-Jama’ah (kelompok yang menjaga kebersamaan)”.(HR. al-Tirmidzi (2091), DAN AL-Hakim (1/77-78), yang menilainya shohih dan disetujui oleh al-Hafizh al-Dahabi).  

                Syaik Abdul Qodir al-Jilani (471-561 M / 1077-1166 M) menjelaskan :




Al-Sunnah adalah apa yang telah diajarkan oleh Rosululloh SAW (meliputi ucapan, perilaku serta ketetapan beliau). Sedangkan al-Jamaah adalah segala sesuatu yang telah menjadi kesepakatan para shohabat Nabi SAW pada masa Khulafaur Rosyidin yang empat, yang telah diberi hidayah (mudah-mudahan Alooh SWT member rahmat kepada mereka semua)”. (Al-Ghurryah li tholibi Thoriq al Haqq, Juz 1, hal. 80).
         Lebih jelas lagi, hadl rotusysyekh KH. Muhammad Hasyim  Asy’ari (1287-1336 H / 1871 – 1947 M ) menyebutkan dalam kitabnya  Ziyadat Ta’liqat ( hal. 23-24 sebagai berikut :





     “Adapun Ahlussunnah Wal Jama’ah adalah kelompok ahli tafsir, ahli hadits dan ahli fiqih.  Merekalah yang mengikuti dan berpegang teguh dengan Sunnah Nabi SAW dan sunnah Khulafaur Rosyidin setelahnya. Mereka adalah kelompok yang selamat (al-firqah al-najiyyah). Mereka mengatakan, bahwa kelompok tersebut sekarang ini terhimpun dalam mazhab yang empat, yaitu pengikut mazhab Hanafi, Syafi’I, Maliki dab Hanafi “.
3
          Dari definisi ini, dapat dipahami bahwa Ahlussunnah Wal Jama’ah  bukanlah aliran baru yang muncul sebagai reaksi  dari beberapa aliran yang menyimpang dari ajaran Islam  yang hakiki. Tetapi Ahlussunnah Wal Jama’ah adalah Islam yang murni sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi SAW dan sesuai dengan apa yang telah digariskan serta diamalkan oleh para shohabatnya.

          Kaitannya dengan pengamalan tiga sendi utama ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari,  golongan Ahlussunnah Wal Jama’ah mengikuti rumusan yang telah digariskan oleh ulama salaf.  Yakni :

1.      Dalam bidang teologi (akidah/tauhid) tercerminkan dalam rumusan yang digagas oleh Imam al-Asy’ari dan Imam al-Maturidi.

2.      Dalam masalah fiqih terwujud dengan mengikuti mazhab empat, yakni Madzhab al-Hanafi, Madzhab al-Maliki, Madzhab as-Syafi’i, dan Madzhab al- Hambali.

3.      Bidang tashawuf mengikuti Imam al-Junaid al-Baghdadi (w.297 H / 910 M) dan Imam al-Ghozali).

3.Karakter Tawassuth, Tawazun dan I’tidal
              Sebagai pembeda dengan yang lain, ada tiga ciri aswaja,  yakni tiga sikap yang selalu diajarkan oleh Rosululloh SAW dan para shahabatnya. Yaitu :
1.      Al- Tawassuth (sikap tengah-tengah, sedang-sedang, tidak ekstrim kiri ataupun ekstrim kanan ).  Disarikan dari firman Allah SWT :


Artinya :
Dan demikianlah kami jadikan kamu sekalian (ummat islam)  ummat pertengahan (adil dan pilihan) agar kamu menjadi saksi (ukuran penilaian) atas (sikap dan perbuatan) manusia umumnya dan supaya Alloh SWT menjadi saksi (ukuran penilaian) atas {sikap dan perbuatan} kamu sekalian”. (QS. Al Baqarah: 143 ).
2.      At-Tawazun, (seimbang dalam segala hal, termasuk dalam penggunaan dalil ‘aqli dan dalil naqli. Firman Alloh SWT :
4
Artinya :
Sungguh kami telah mengutus rosul-rosul  kami dengan membawa  bukti kebenaran  yang nyata dan telah kami turunkan bersama mereka al-kitab dan neraca (penyeimbang keadilan)  supaya manusia dapat melaksanakan keadilan” (QS. Al-Hadid:25).
3.      Al-I’tidal (tegak lurus). Dalam Al-Qur’an Alloh SWT berfirman :


Artinya :
Wahai orang-orang yang beriman hendaklah kamu sekalian menjadi orang-orang yang tegak membela (kebenaran) karena Alloh menjadi saksi (pengukur kebenaran) yang adil. Dan janganlah kebencian kamu pada suatu kaum menjadikan kamu berlaku tidak adil. Berbuat adillah karena keadilan itu lebih mendekatkan pada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Alloh, karena sesungguhnya Alloh Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Maidah: 8}.
          Selain ketiga prinsip ini, glongan Ahlussunnah Wal Jama’ah juga mengamalkan sikap tasamuh (toleransi). Yakni menghargai perbedaan serta menghormati orang yang memiliki prinsip hidup yang tidak sama.  Namun bukan berarti mengakui atau membenarkan keyakinan yang berbeda tersebut dalam meneguhkan apa yang diyakini. Firman Alloh SWT :


“Maka berbicaralah kamu berdua  (Nabi AS dan Nabi Harun AS) kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”. (QS. Thaha:44).
          Ayat ini berbicara tentang perintah Alloh SWT kepada Nabi Musa AS dan Nabi Ibrohim AS agar berkata dan bersikap baik kepada Fir’aun. Al- Hafidz Ibnu Katsir (701-704 H / 1302 – 1373 M) ketika menjabarkan ayat ini mengatakan: “Sesungguhnya dakwah Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS kepada Fir’aun, adalah menggunakan perkataan yang penuh belas kasih, lembut, mudah dan ramah.  Hal itu dilakukan supaya lebih menyentuh hati, lebih dapat diterima dan lebih berfaedah”. (Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, juz III, hal.206).
          Dalam tataran praktis, sebagaimana dijelaskan KH. Ahmad Shiddiq bahwa prinsip-prinsip ini dapat terwujudkan dalam beberapa hal sebagi berikut :
5
1.      Akidah.
a.      Keseimbangan dalam penggunaan dalil ‘aqli dan dalil naqli.
b.      Memurnikan akidah dari pengaruh luar Islam
c.       Tidak gampang menilai salah atau menjatuhkan vonis, bid’ah apalagi kafir.

2.      Syari’ah.
a.      Berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Hadits dengan menggunakan methode yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.
b.      Akal baru dapat digunakan pada masalah yang tidak ada nash yang jelas (sharih / qath’i)
c.       Dapat menerima perbedaan pendapat dalam menilai masalah yang memiliki dalil yang multi-interpretatif  (zhanni).

3.      Tashawuf / Akhlak.
a.      Tidak mencegah, bahkan menganjurkan usaha memperdalam penghayatan ajaran Islam, selama menggunakan cara-cara yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip hukum Islam.
b.      Mencegah sikap berlebihan (ghuluw) dalam menilai sesuatu.
c.       Berpedoman pada ahlak yang luhur. Misalnya sikap syaja’ah atau berani (antara penakut dan ngawur atau sembrono), sikap tawadhu’ (antara sombong dan rendah diri) dan sikap dermawan (antara kikir dan boros).

4.      Pergaulan antar golongan  
a.      Mengakui watak manusia yang senang berkumpul dan berkelompok berdasarkan berdasarkan unsure pengikatnya masing-masing.
b.      Mengembangkan toleransi kepada kelompok yang berbeda.
c.       Pergaulan antar golongan harus atas dasar saling menghormati dan menghargai.
d.      Bersikap tegas kepada pihak yang nyata-nyata memusuhi Agama Islam.

5.      Kehidupan bernegara
a.      NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) harus tetap dipertahankan karena merupakan kesepakatan seluruh komponen bangsa.
b.      Selalu taat dan patuh kepada pemerintah dengan semua aturan yang dibuat, selama tidak bertentangan dengan ajaran agama.
c.       Tidak melakukan pemberontakan atau kudeta kepada pemerintah yang syah.
d.      Kalau terjadi penyimpangan dalam pemerintahan, maka mengingatkannya dengan cara yang baik.
6
6.      Kebudayaan
a.      Kebudayaan harus ditempatkan pada kedudukan yang wajar. Dinilai dan diukur dengan norma dan hukum agama.
b.      Kebudayaan yang baik dan tidak bertentangan dengan agama dapat diterima, dari manapun datangnya. Sedangkan yang tidak baik harus ditinggal.
c.       Dapat menerima budaya baru yang baik dan melestarikan budaya lama yang masih relevan ( Almuhafazhoh ‘ala al-qodim al-sholih fa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah).

7.      Dakwah
a.      Berdakwah bukan untuk menghukum atau memberikan vonis bersalah, tetapi mengajak masyarakat menuju jalan yang diridhoi Alloh SWT.
b.      Berdakwah dilakukan dengan tujuan dan sasaran yang jelas.
c.       Dakwah dilakukan dengan petunjuk yang baik dan keterangan yang jelas, disesuaikan dengan kondisi dan keadaan sasaran dakwah. (Lihat Kitab Nahdliyyah, Hal. 40-44).

4.      Perumus Ahlussunnah Wal-Jama’ah dalam Bidang  Akidah
         Sebagaimana penjelasan yang telah lalu, bahwa Ahlussunnah Wal- Jama’ah merupakan Islam murni yang langsung dari Rosululloh SAW kemudian diteruskan oleh para sahabatnya.  Oleh karena itu, tidak ada seorangpun yang menjadi pendiri ajaran Ahlussunnah Wal-Jama’ah. Yang ada hanyalah Ulama yang telah merumuskan kembali ajaran Islam tersebut setelah lahirnya beberapa paham dan aliran keagamaan yang berusaha mengaburkan ajaran Rosululloh SAW dan para sahabatnya yang murni itu.
           Dalam hal ini Ulama merumuskan